GRIYANET.my.id Home Blog
Pricing Strategy

Jangan Asal Diskon 40%: Kapan Potongan Harga Justru Bikin Rugi

July 12, 2026 • 5 min read • oleh Griya Widiada
Jangan Asal Diskon 40%: Kapan Potongan Harga Justru Bikin Rugi

Selama ini Anda mungkin berpikir memberi diskon besar adalah cara tercepat untuk mengisi kamar saat sepi. "Kasih diskon 40% saja, pasti laku." Padahal, strategi ini bisa justru mematikan bisnis hotel Anda dalam jangka panjang.

Mitos: Diskon = Cepat Terisi

Pak Andi punya homestay 12 kamar di Bandung. Setiap kali melihat kalender kosong, reaksinya langsung: "Diskon lagi!" Traveloka, Agoda, OTA semua diberi potongan harga besar. Awalnya memang efektif — kamar terisi, tamu datang. Tapi di akhir bulan, Pak Andi heran: Okupansi penuh, tapi kenapa profit tetap tipis?

Jawabannya sederhana: Diskon yang dia kasih, ujung-ujungnya malah makan margin. Lebih parah lagi, tamu mulai "pintar" — mereka tahu kalau nunggu sebentar lagi pasti ada diskon lebih gede.

Konsep: BAR Rate vs Discounting

BAR (Best Available Rate) itu kayak harga standar kamar Anda di website sendiri. Ini harga yang sudah dihitung matang-matang berdasarkan biaya operasional, kompetitor, dan demand. BAR bukan harga paling mahal, tapi harga wajar yang memberi profit sehat.

Discounting adalah saat Anda menurunkan harga di bawah BAR karena suatu alasan — biasanya karena panik lihat kamar kosong.

Perbedaannya:

Kapan Boleh Kasih Diskon?

Anda tidak dilarang kasih diskon. Tapi harus ada aturan mainnya, bukan asal kasih karena kamar kosong. Ini aturan sederhana:

1. Diskon Hanya untuk Last Minute (3 hari sebelum check-in)

Kalau H-3 masih ada sisa kamar 2-3 unit, baru boleh diskon 10-15%. Tidak pernah diskon 2 minggu sebelumnya — itu bunuh diri sendiri.

2. Diskon Tidak Boleh Lebih Dari Komisi OTA

Komisi OTA rata-rata 15-20%. Kalau Anda diskon 30%, berarti Anda rugi dua kali: bayar komisi KE OTA, DAN kasih potongan ke tamu. Matikan.

3. Diskon Sekali-sekali, Bukan Routine

Kalau tiap minggu Anda kasih diskon, tamu akan belajar: "Nunggu diskon saja." Sebaliknya, kalau diskon jarang (misal 1-2x sebulan), mereka akan merasa ini kesempatan langka dan lebih cepat booking.

Alternatif Diskon: Value-Added Selling

Bukan lalu tidak boleh kasih promo. Tapi ganti diskon dengan sesuatu yang lebih bijak: value-added.

Pak Budi di Ubud pernah punya kasus sama — kamar sepi di low season. Daripada diskon 30%, dia coba sesuatu: "Booking sekarang, gratis antar jemput bandara dan sarapan untuk 2 orang."

Hasilnya? Okupansi naik, dan tamu merasa dapet nilai lebih padahal Pak Budi cuma nambah biaya sarapan (yang marginnya cuma Rp 30.000 per porsi) dan antar jemput (dia kontrak driver tetap). Room rate tetap di BAR, profit tetap terjaga.

Contoh lain:

Q&A; yang Sering Ditanyakan

Q: Kalau kompetitor kasih diskon gede, saya ikut atau tidak?

A: Cek dulu. Kalau kompetitor diskon karena memang kamar mereka sepi dan tidak punya strategi lain, jangan ikut. Kompetitor yang pintar pakai BAR, mereka jarang diskon gede. Kalau yang diskon adalah hotel dengan kualitas jauh di bawah Anda, biarkan saja — beda segmen, beda harga.

Q: Berapa persen diskon aman?

A: Maksimal 15%, dan hanya untuk last minute. Lebih dari itu, Anda mungkin lebih baik menutup kamar saja (hold) dan fokus ke tamu yang datang hari berikutnya dengan rate normal.

Q: Kalau saya sudah ketinggalan, selalu diskon karena saya pakai rate lama yang terlalu tinggi?

A: Koreksi BAR Anda. Mungkin harga Anda memang di atas pasar. Cek kompetitor sejenis di OTA, lalu sesuaikan BAR Anda. Tapi jangan pakai diskon untuk menutupi kesalahan penetapan harga — perbaiki harganya dari awal.

Sebelum vs Sesudah: Studi Kasus Singkat

Sebelum: Villa 10 kamar di Lombok, BAR Rp 800.000. Low season, owner kasih diskon 40% di semua OTA. Okupansi 70%, tapi RevPAR cuma Rp 480.000 (karena banyak kamar dijual Rp 480.000).

Sesudah: Owner belajar soal BAR, ubah strategi. Rate tetap Rp 800.000. Kalau low season, dia pakai value-added (free breakfast + transport). Okupansi turun jadi 65%, tapi RevPAR naik jadi Rp 650.000. Profit naik karena biaya value-added lebih kecil daripada diskon 40%.

Artinya: Kamar mungkin sedikit lebih kosong, tapi pendapatan per kamar jauh lebih sehat.

Langkah Praktis Hari Ini

  1. Cek BAR Anda: Apakah sudah menghitung biaya operasional + margin profit 15-20%?
  2. Hapus diskon routine: Kalau di OTA ada promo diskon permanen, matikan.
  3. Buat aturan diskon: Tulis di kertas: Diskon maksimal 15%, hanya H-3, maksimal 2x per bulan.
  4. Siapkan 2 promo value-added: Misal "Free sarapan untuk 2 orang" atau "Free antar jemput bandara".
  5. Pantau hasil: Bandingkan RevPAR bulan ini vs bulan lalu setelah terapkan strategi baru.

Kunci sukses pricing bukanlah berapa sering Anda kasih diskon, tapi seberapa pintar Anda menjaga BAR tetap terhormat sambil tetap memberi nilai tambah ke tamu.

Ingin belajar lebih lanjut tentang penetapan harga yang tepat untuk hotel Anda? Pelajari Pricing Rules Lesson gratis untuk memahami cara menghitung BAR yang benar.

Dan kalau Anda butuh alat bantu untuk mengelola pricing secara otomatis, LightRMS bisa membantu Anda menerapkan strategi pricing yang bijak tanpa ribet hitung manual setiap hari.

Artikel ini bagian dari seri panduan Revenue Management untuk hotel kecil di Indonesia. Langganan blog kami untuk tips praktis lainnya.

Butuh bantuan mengelola revenue hotel Anda?

Gunakan LightRMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.

Artikel ini dibuat untuk membantu hotelier Indonesia memahami praktik Revenue Management terbaik.

FAQ

Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai profit terasa membaik setelah saya berhenti kasih diskon besar? A: Umumnya 1-2 bulan. Di bulan pertama okupansi mungkin sedikit turun karena tamu masih menunggu-nunggu diskon, tapi begitu mereka sadar harga Anda stabil, booking kembali normal dengan margin yang jauh lebih sehat. Pantau RevPAR bulanan, bukan sekadar okupansi, untuk melihat perbedaannya.

Q: Kalau low season dan kamar sepi, lebih baik diskon 40% atau pakai value-added seperti gratis sarapan? A: Jauh lebih baik value-added. Kasus Pak Budi di Ubud menunjukkan: gratis antar jemput bandara dan sarapan membuat okupansi naik tanpa menyentuh BAR rate, karena biaya tambahannya hanya sekitar Rp 30.000 per porsi sarapan — tidak sebanding dengan margin yang hilang akibat diskon 40%.

Q: Bagaimana cara berhenti kasih diskon rutin tanpa membuat tamu kaget? A: Bertahap. Pertama, matikan promo permanen di OTA, lalu ganti kebiasaan diskon dengan value-added seperti free late check-out, upgrade kamar, atau paket spa. Terakhir, terapkan aturan tertulis: diskon maksimal 15%, hanya untuk H-3, dan maksimal 2 kali sebulan. Tamu akan menyesuaikan diri.

Q: Apakah tamu akan pindah ke hotel sebelah yang lebih murah kalau saya berhenti kasih diskon? A: Sebagian kecil mungkin pindah, dan itu bukan kerugian besar. Tamu yang hanya loyal karena harga murah adalah tamu yang paling mudah pergi begitu ada yang lebih murah. Justru fokus pada tamu yang menghargai value — mereka yang akan balik lagi dan memberi margin sehat.

Q: Apakah diskon untuk booking 2 minggu sebelumnya pernah dibenarkan? A: Tidak. Diskon hanya untuk last minute, maksimal H-3, itupun kalau masih ada sisa 2-3 kamar. Memberi diskon 2 minggu sebelumnya sama saja membuang revenue, karena tamu yang sebenarnya bersedia bayar harga penuh ikut menikmati potongan.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai profit terasa membaik setelah saya berhenti kasih diskon besar?

Umumnya 1-2 bulan. Di bulan pertama okupansi mungkin sedikit turun karena tamu masih menunggu-nunggu diskon, tapi begitu mereka sadar harga Anda stabil, booking kembali normal dengan margin yang jauh lebih sehat. Pantau RevPAR bulanan, bukan sekadar okupansi, untuk melihat perbedaannya.

Kalau low season dan kamar sepi, lebih baik diskon 40% atau pakai value-added seperti gratis sarapan?

Jauh lebih baik value-added. Kasus Pak Budi di Ubud menunjukkan: gratis antar jemput bandara dan sarapan membuat okupansi naik tanpa menyentuh BAR rate, karena biaya tambahannya hanya sekitar Rp 30.000 per porsi sarapan — tidak sebanding dengan margin yang hilang akibat diskon 40%.

Bagaimana cara berhenti kasih diskon rutin tanpa membuat tamu kaget?

Bertahap. Pertama, matikan promo permanen di OTA, lalu ganti kebiasaan diskon dengan value-added seperti free late check-out, upgrade kamar, atau paket spa. Terakhir, terapkan aturan tertulis: diskon maksimal 15%, hanya untuk H-3, dan maksimal 2 kali sebulan. Tamu akan menyesuaikan diri.

Apakah tamu akan pindah ke hotel sebelah yang lebih murah kalau saya berhenti kasih diskon?

Sebagian kecil mungkin pindah, dan itu bukan kerugian besar. Tamu yang hanya loyal karena harga murah adalah tamu yang paling mudah pergi begitu ada yang lebih murah. Justru fokus pada tamu yang menghargai value — mereka yang akan balik lagi dan memberi margin sehat.

Apakah diskon untuk booking 2 minggu sebelumnya pernah dibenarkan?

Tidak. Diskon hanya untuk last minute, maksimal H-3, itupun kalau masih ada sisa 2-3 kamar. Memberi diskon 2 minggu sebelumnya sama saja membuang revenue, karena tamu yang sebenarnya bersedia bayar harga penuh ikut menikmati potongan.

#BAR rate#diskon