Masalah klasik: Kamar kosong… atau kelebihan tamu?
Bu Rina punya hotel 25 kamar di Malang. Setiap hari Jumat, ia deg-degan. Belum tahu apakah akhir pekan ini akan penuh atau sepi. Kadang pas Sabtu pagi baru 5 kamar terbooking, panik — langsung pasang diskon besar-besaran. Eh, siangnya tiba-tiba booking masuk 15 kamar dalam 2 jam. Harganya sudah terlanjur murah. Rugi, kan?
Di sisi lain, pernah juga pekan depan hotelnya full booking dari Senin. Tapi Bu Rina baru sadar hari Minggu. Terlambat menaikkan harga di momen high demand. Padahal minggu itu ada event马拉松 di kota. Kamar yang seharusnya bisa dijual Rp 500.000 cuma laku Rp 350.000.
Pernah mengalami situasi seperti ini?
Tenang, ada solusinya. Namanya Booking Pace.
Apa Itu Booking Pace? (Penjelasan Sederhana)
Booking pace itu bahasa Inggris keren untuk "kecepatan pemesanan." Gampangnya: seberapa cepat kamar hotel Anda terbooking dibanding waktu yang tersisa.
Bayangkan ini seperti air di ember. Booking pace adalah debit air yang masuk — apakah airnya mengalir deras, atau hanya menetes pelan? Kalau debit besar dan ember masih kosong, Anda tahu ada yang tidak beres. Mungkin harga terlalu mahal. Sebaliknya, kalau debit kecil tapi ember hampir penuh — artinya harga Anda mungkin terlalu murah dan Anda bisa naikkan.
Kenapa ini penting? Karena dengan booking pace, Anda bisa memprediksi 30 hari sebelumnya apakah hotel akan penuh — bukan menunggu sampai H-1 baru tahu.
Rumus Booking Pace yang Cuma Pakai Kalkulator
Anda tidak perlu software mahal. Cukup catat 3 angka ini setiap hari:
- Total kamar terbooking untuk tanggal X — lihat di PMS atau property management system Anda
- Hari tersisa sampai tanggal X — tinggal hitung mundur
- Jumlah kamar yang biasanya terbooking di hari yang sama minggu lalu — ini sebagai pembanding
Terus gimana bacanya?
- Booking pace lebih cepat dari minggu lalu → Bagus! Permintaan naik. Bisa naikkan harga.
- Booking pace lebih lambat → Waspada. Mungkin perlu cek harga kompetitor atau evaluasi strategi.
- Booking pace sama → Stabil. Lanjutkan strategi yang sudah jalan.
Mudah, kan? Cuma 5 menit per hari.
Contoh Nyata: Pak Agus vs Bu Rina
Cerita dua hotel 20 kamar di Yogyakarta:
Pak Agus: Setiap malam buka aplikasi booking, lihat ada 8 kamar terbooking untuk Sabtu depan. Santai. "Ah, masih seminggu lagi, pasti nanti rame." Pas hari Sabtu pagi, ternyata cuma 12 kamar laku. Harganya sudah dipatok dari Rp 400.000 sejak awal. Hari itu sepi, untung tipis.
Bu Rina: Setiap pagi habis sarapan, buka spreadsheet kecil di HP. "Minggu lalu untuk tanggal yang sama di jam ini sudah 8 booking. Sekarang baru 5. Ada yang beda." Ia cek harga kompetitor — ternyata hotel sebelah pasang harga lebih murah. Bu Rina turunkan harga sedikit dari Rp 450.000 ke Rp 400.000, pasang diskon early bird. Besoknya booking naik jadi 12 kamar. Hasilnya: lebih banyak kamar laku dari pada Pak Agus.
Bedanya cuma satu : Bu Rina paham booking pace. Pak Agus tidak.
3 Langkah Mulai Booking Pace Besok Pagi
- Buat spreadsheet sederhana — kolom: tanggal, kamar terbooking, hari tersisa. Cukup pakai Google Sheets di HP.
- Catat tiap pagi — 5 menit sambil minum kopi. Lihat berapa kamar terbooking untuk 7, 14, dan 30 hari ke depan.
- Bandingkan dengan minggu lalu — kalau lebih lambat, evaluasi. Kalau lebih cepat, naikkan harga.
Ingin yang lebih praktis? LightRMS bisa bantu Anda melacak booking pace secara otomatis — tanpa spreadsheet manual. Tapi kalau belum mau investasi, spreadsheet dulu juga sudah jalan kok.
Bonus: Link ke Tools Gratis untuk Forecasting
Penasaran ingin coba teknik forecasting yang lebih advanced? GriyaNet Academy punya Quick Forecasting Tool gratis yang bisa Anda pakai langsung — tinggal masukin angka, keluar prediksi okupansi. Cocok buat latihan sebelum terjun ke strategi yang lebih kompleks.
Kesimpulan
Anda tidak perlu jadi lulusan perhotelan atau punya software mahal untuk mulai pakai booking pace. Cuma perlu buku catatan atau spreadsheet dan kemauan meluangkan 5 menit sehari.
Ingat cerita Bu Rina di awal? Setelah 2 minggu konsisten catat booking pace, ia tidak pernah lagi panik diskon di menit-menit terakhir. Ia tahu kapan harus push harga dan kapan bisa tenang. Hasilnya? RevPAR naik 25% dalam sebulan pertama.
Mulai besok pagi, cek booking pace hotel Anda. 5 menit. Itu saja.
— Artikel ini adalah bagian dari seri Revenue Management untuk hotel UMKM Indonesia olehGriyaNet Academy.
Butuh bantuan mengelola revenue hotel Anda?
Gunakan RMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.
Artikel ini dibuat untuk membantu hotelier Indonesia memahami praktik Revenue Management terbaik.