GRIYANET.my.id Home Blog
Hotel Marketing

Dari 8 Booking Jadi 34 Booking per Bulan: Cerita Hotel 16 Kamar di Lombok yang Berhenti Andalkan OTA

June 27, 2026 • 6 min read • oleh Griya Widiada
Dari 8 Booking Jadi 34 Booking per Bulan: Cerita Hotel 16 Kamar di Lombok yang Berhenti Andalkan OTA

Dari 8 Booking Jadi 34 Booking per Bulan: Cerita Hotel 16 Kamar di Lombok yang Berhenti Andalkan OTA

Bayangin: tiap kali ada tamu check-in lewat Traveloka, Rp 75.000 langsung lenyap dari kantong Anda. Dikali 20 kamar per bulan? Sudah Rp 1,5 juta nguap cuma buat komisi.

Itulah yang dialami Mas Oka, pemilik Griya Lombok Asri — homestay 16 kamar di Senggigi, Lombok Barat. Tahun lalu, 90% booking-nya dari OTA: Traveloka, Tiket.com, Booking.com. Komisi rata-rata 22%. Tiap bulan ia membayar Rp 3-4 juta cuma biar hotelnya tampil di aplikasi orang lain.

"Saya sadar ini nggak sehat. Setiap ada tamu datang, rasanya seneng campur sedih — seneng dapat tamu, sedeh tiap transaksi dipotong hampir seperempatnya," cerita Mas Oka pas saya ngobrol dengannya awal tahun ini.

Tapi dalam 3 bulan terakhir, ada yang berubah drastis. Booking langsung (direct booking) naik dari rata-rata 8 booking per bulan jadi 34 booking. Komisi OTA turun dari Rp 3,5 juta/bulan jadi Rp 800 ribu. Gimana caranya? Nggak pakai software mahal. Nggak pakai jasa digital agency. Modalnya cuma: waktu, HP, dan kemauan belajar.

Langkah #1: Google Bisnisku — Bikin Hotel Muncul Tanpa Bayar Iklan

Langkah pertama Mas Oka adalah merombak total Google Bisnisku (Google My Business) hotelnya. Ibaratnya, Google Bisnisku itu etalase gratis hotel Anda di halaman pencarian Google. Yang dilihat calon tamu pertama kali sebelum klik website Anda.

Mas Oka melakukan 3 perbaikan sederhana:

  1. Foto di-upgrade. Dulu cuma 3 foto kamar gelap-gelap. Sekarang 25 foto: kamar, kamar mandi, sarapan, pemandangan Gunung Rinjani dari teras, dan video singkat 30 detik. Hasilnya? Click-through rate (CTR) naik 3x lipat — artinya dari yang lihat listing, 3 kali lebih banyak yang mampir ke websitenya.
  2. Fitur Q &A; diisi sendiri. Cek Google Bisnisku hotel Anda sekarang — banyak pertanyaan nggak terjawab? Mas Oka menjawab semua: "Apakah ada sarapan?" (Ya, nasi goreng gratis), "Apakah ada jemput bandara?" (Ada, Rp 50.000). Setiap jawaban adalah modal promosi yang nggak Anda pakai.
  3. Minta review, tapi pintar. Bukan sekadar "Kasi review dong." Tapi: "Kalau puas, tolong kasih rating 5 bintang di Google. Kalau ada yang kurang, bilang ke saya langsung, ya." Dalam 1 bulan, review naik dari 12 jadi 47. Rating tetap 4,2 ke atas.

Langkah #2: Website Hotel — Dari Tiket Masuk OTA Jadi Pusat Booking

Website lama Mas Oka cuma brosur digital: "Ini kamar, ini harga, ini no WA." Nggak bisa booking langsung. Tamu kalau tertarik harus telepon atau WA — yang berarti peluang hilang di tengah jalan karena calon tamu malas ngetik.

Mas Oka pasang Booking Engine sederhana di websitenya. Biayanya Rp 0 — gratis. Cuma perlu login ke website, tambahkan plugin, dan selesai. Sekarang tamu bisa booking langsung:

Hasilnya? Dari 34 booking langsung per bulan yang Mas Oka dapatkan sekarang, 22 di antaranya datang dari website — bukan dari WA. Artinya sistem bekerja 24 jam, bahkan pas Mas Oka tidur.

Langkah #3: Konten Instagram yang Nggak Bikin Malu

"Dulu saya posting sembarangan — foto kamar yang itu-itu aja, caption 'Hotel murah di Lombok yuk!' Hasilnya? 15 likes, 0 booking," kata Mas Oka.

Setelah belajar, ia mengubah strategi konten. Bukan menjual kamar, tapi menjual pengalaman. Contoh konten yang now viral:

Mas Oka juga mulai menggunakan AI Search Analyzer untuk melihat kata kunci apa yang dipakai calon tamu saat mencari hotel di Lombok. Ternyata banyak yang cari "homestay dekat pantai senggigi murah" — bukan "hotel bintang 3 lombok". Dari situ ia optimasi tulisan di website dan Google Bisnisku dengan kata kunci yang tepat.

Langkah #4: Bangun Aset Digital, Jangan Cuma Nyewa

Ini pelajaran paling penting: OTA itu seperti nyewa toko di mal. Anda bayar sewa (komisi), dan tamu yang datang adalah tamu mal, BUKAN tamu Anda. Besok kalau Anda berhenti bayar sewa, tamu hilang.

Direct booking itu seperti membangun toko sendiri di pinggir jalan raya. Butuh waktu, tapi begitu jalan, tamu datang langsung dan Anda bisa bangun hubungan jangka panjang. Daftar email? Punya. Data preferensi tamu? Punya. Bisa kirim promo langsung? Bisa.

Aspek Dulu (100% OTA) Sekarang (Direct + OTA)
Booking per bulan 25 (95% via OTA) 42 (81% langsung, 19% OTA)
Komisi per bulan Rp 3.500.000 Rp 800.000
Revenue per kamar (ADR) Rp 180.000 Rp 220.000
Data tamu Nol — semua data di OTA Punya 150+ email & WA tamu
Stres pas low season Tinggi — nunggu OTA ngasih tamu Rendah — bisa kirim promo langsung

Q&A;: Pertanyaan yang Sering Muncul

Q: Tapi saya nggak punya budget iklan, gimana?
A: Mas Oka juga nggak pasang iklan sama sekali. Google Bisnisku gratis. Konten IG gratis. Website + booking engine gratis. Yang mahal cuma waktu Anda — luangkan 1-2 jam per hari selama 1 bulan, dan hasilnya akan bertahan bertahun-tahun.

Q: Kalau dari OTA tetap ada booking, kenapa harus capek bikin website segala?
A: OTA itu ibarat punya karyawan yang ambil komisi 20-30% dari setiap penjualan. Karyawan mahal, kan? Website langsung itu kayak punya resepsionis sendiri — bayar sekali, hasilnya seumur hidup. Apalagi kalau Anda kombinasikan dengan analisis review OTA untuk tahu apa yang bikin tamu puas atau kecewa.

Q: Berapa lama sampai hasilnya terasa?
A: Mas Oka mulai lihat hasil nyata di bulan ke-2. Bulan 1 sibuk setup. Bulan 2 mulai ada direct booking dari Google. Bulan 3 mulai ada dari IG. Bulan 4 stabil. Paling lambat 3 bulan kalau konsisten.

Q: Kalau sudah ada booking langsung, apa OTA tetap perlu?
A: Tetap — tapi sekarang Mas Oka mengontrol OTA, bukan dikontrol OTA. Ia pasang harga lebih tinggi di OTA daripada website (selisih Rp 30-50 ribu). Tamu yang teliti milih booking langsung karena lebih murah. Tamu yang males bandingin booking via OTA. Semua tetap untung.

Mulai dari Mana Besok Pagi?

Nggak perlu langsung kayak Mas Oka. Cukup 3 hal ini besok pagi:

  1. Buka Google Bisnisku hotel Anda. Update foto. Jawab semua pertanyaan yang belum terjawab. Minta 2 tamu terakhir kasi review.
  2. Cek website hotel Anda. Kalau belum bisa booking online, pasang booking engine. Kalau sudah ada, coba booking dari HP teman — apa prosesnya mulus atau malah bikin pusing?
  3. Posting 1 konten yang bukan jualan di Instagram. Cerita tentang kampung halaman Anda, tentang masakan khas daerah, tentang pemandangan matahari terbit dari hotel Anda. Biarkan orang ngefans dulu, baru mereka akan booking.

Ingat: Anda nggak perlu jadi expert digital marketing. Anda cuma perlu mulai, konsisten, dan belajar dari yang sudah berhasil. Mas Oka buktikan — dengan hotel 16 kamar, modal Rp 0, dan kemauan ubah kebiasaan — direct booking bisa naik 400% dalam 3 bulan.

Kalau Anda mau belajar strategi pricing dan distribusi yang lebih dalam, coba Pricing Strategy Quiz untuk uji pemahaman Anda. Atau langsung konsultasi dengan LightRMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.

Butuh bantuan mengelola revenue hotel Anda?

Gunakan LightRMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.

Artikel ini dibuat untuk membantu hotelier Indonesia memahami praktik Revenue Management terbaik.

#booking engine#cerita sukses#content marketing#digital marketing hotel#direct booking