GRIYANET.my.id Home Blog
Pricing Strategy

Dynamic Pricing untuk Villa: Studi Kasus Pak Made di Ubud

July 16, 2026 • 5 min read • oleh Griya Widiada
Dynamic Pricing untuk Villa: Studi Kasus Pak Made di Ubud

Pak Made menghela napas berat. Setiap akhir pekan, 15 kamar villanya di Ubud selalu penuh booking. Tapi begitu hari Selasa tiba, hanya 3-4 kamar yang terisi. Sementara itu, hotel sebelah yang sama-sama 15 kamar, selalu penuh di akhir pekan — dan harganya 30% lebih mahal dari Pak Made.

"Kalau saya naikkan harga jutaan pasti nggak ada yang mau," kata Pak Made. "Mending harga standar, kan yang penting kamar terisi."

Padahal, Pak Made kehilangan Rp 15-20 juta per bulan hanya karena satu hal: harga kamar yang tidak berubah.

Masalahnya bukan pada harga — tapi pada timing harga.

Apa itu Dynamic Pricing?

Dynamic pricing itu bukan sesuatu yang rumit. Bayangkan seperti ojek online — harga naik saat hujan dan macet, turun saat sepi. Di hotel, prinsipnya sama: harga naik saat banyak yang mau menginap, turun saat sepi.

Tapi untuk hotel kecil, nggak perlu pakai software mahal. Cukup spread sheet dan sedikit disiplin.

Sebelum dynamic pricing, Pak Made menjual semua kamar dengan harga Rp 800.000/malam — baik hari Senin maupun Sabtu. Setelah paham konsep ini, beliau mulai:

Hasilnya? Dalam 3 bulan, RevPAR naik dari Rp 560.000 menjadi Rp 780.000 — tumbuh 40%.

Kapan Harus Naikkan Harga?

1. High Season — Saat permintaan naik

High season bukan cuma liburan Lebaran atau Natal. High season bisa berupa:

Cara gampang cek: Buka Calendar of Events Checker dan ketik kota hotel Anda. Anda akan lihat event apa saja dalam 3 bulan ke depan.

2. Booking Pace Cepat — Saat tamu booking lebih awal

Jika 30 hari sebelum tanggal, sudah 60% kamar terisi — itu tanda permintaan tinggi. Waktunya naikkan harga 15-20%. Kalau sampai 80% terisi 15 hari sebelum tanggal, naikkan lagi 10-15%.

3. Kompetitor Naikkan Harga — Saingan bergerak duluan

Cek harga 3-5 hotel sejenis di Traveloka atau Booking.com. Kalau mereka semua naikkan harga, kemungkinan besar ada event atau demand yang naik. Ikut saja — tapi jangan terlalu agresif. 10-15% di bawah harga tertinggi cukup.

Kapan Harus Turunkan Harga?

1. Low Season — Saat permintaan turun

Low season biasanya terjadi di:

Turunkan harga bukan berarti diskon gila-gilaan. Cukup 15-25% dari harga normal. Yang penting: occupancy tetap minimal 50-60% supaya operating cost tercover.

2. Last Minute — Saat banyak kamar kosong

2 hari sebelum check-in, kalau masih ada 30%+ kamar kosong, turunkan harga 10-15% untuk fill up occupancy. Better terisi dengan harga lebih rendah daripada kosong sama sekali.

Tapi hati-hati: Jangan terlalu sering diskon last minute. Tamu bisa mulai nunggu nunggu diskon kalau mereka tahu polanya.

Formula Dynamic Pricing Sederhana

Untuk memulai, Anda bisa pakai formula ini di spread sheet:

Harga Dasar = Harga standar kamar Anda (misal Rp 800.000)

Multiplier = Faktor penyesuaian (0.75 - 1.5)

Harga Akhir = Harga Dasar × Multiplier

Contoh Multiplier:

Pak Made pakai formula ini di Google Sheets, dan setiap hari beliau cukup copy-paste harga sesuai multiplier. Tidak perlu hitung manual berkali-kali.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

❌ Naikkan harga terlalu agresif

Ada pemilik hotel yang langsung naikkan harga 100% di weekend. Hasilnya? Kamar kosong karena tamu pindah ke hotel lain yang lebih masuk akal harganya. Naik 20-30% saja sudah cukup, lihat respons dulu.

❌ Diskon gila-gilaan di low season

Turunkan harga 50% lebih dari normal? Jangan. Itu nggak cuma bikin margin tipis, tapi juga bikin brand value turun. Tamu bakal mikir, "Ini hotel murahan ya?"

❌ Ganti harga terlalu sering

Ganti harga tiap 2 jam sekali? Tidak perlu. Cukup tiap hari atau tiap 2-3 hari sekali. Tamu butuh stability, bukan harga yang naik-turun seperti roller coaster.

❌ Tidak update harga di semua channel

Sudah naikkan harga di website, tapi di OTA masih harga lama? Tamu akan bingung dan bisa komplain. Pastikan semua channel disinkronkan.

Q&A; yang Sering Ditanyakan Pemilik Hotel

Q: Kalau saya naikkan harga, tamu pasti pindah ke hotel lain dong?

A: Tidak selalu. Tamu yang memesan di peak weekend biasanya sudah siap dengan harga lebih tinggi. Yang penting: pastikan fasilitas dan service sesuai dengan harga. Kalau harga Rp 1.2 juta, kamar harus bersih, WiFi kencang, dan breakfast enak.

Q: Saya cuma punya 10 kamar, butuh dynamic pricing nggak sih?

A: Justru makin kecil hotelnya, makin penting dynamic pricing. Kalau 10 kamar, setiap kamar yang kosong itu 10% dari kapasitas Anda. Satu kamar terisi di high season dengan harga lebih tinggi bisa bikin beda besar di revenue bulanan.

Q: Berapa sering saya harus review harga?

A: Untuk pemula, cukup tiap 2-3 hari sekali. Kalau sudah terbiasa, bisa tiap hari. Tapi jangan review terlalu sering sampai jadi stressful. Intinya bukan timing pas, tapi consistency dan monitoring.

Mulai Hari Ini, Bukan Besok

Kunci dynamic pricing bukan di software mahal — tapi di disiplin monitoring.

Sebelum dynamic pricing, Pak Made hanya buka kalender booking saat ada tamu check-in. Sesudah paham konsep ini, beliau cek:

Dengan 15-20 menit setiap hari, Pak Made berhasil menaikkan monthly revenue dari Rp 120 juta menjadi Rp 168 juta — tanpa mengurangi jumlah kamar.

Dynamic pricing bukan tentang membuat tamu membayar lebih — tapi tentang menjual kamar dengan harga yang wajar sesuai permintaan pasar.

Anda bisa mulai sederhana: buka spread sheet, tulis multiplier, dan ganti harga sesuai kondisi. 2 minggu lagi, review hasilnya. Kalau occupancy masih stabil tapi revenue naik, berarti Anda sudah on track.

Tools seperti LightRMS bisa membantu otomatisasi proses ini — tidak perlu hitung manual di spread sheet. Tapi bahkan tanpa tools, Anda bisa memulai hari ini dengan spread sheet dan disiplin.

Sudah siap naikkan revenue hotel Anda? Pelajari LightRMS untuk mempermudah dynamic pricing dan revenue management hotel kecil Anda.

Butuh bantuan mengelola revenue hotel Anda?

Gunakan LightRMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.

Artikel ini dibuat untuk membantu hotelier Indonesia memahami praktik Revenue Management terbaik.

#BAR rate#dynamic pricing#hotel kecil