Hotel dengan RevPAR Rp 500.000 Bisa Lebih Bangkrut daripada Hotel RevPAR Rp 200.000? Ini Penjelasannya
Bayangin ini: Bu Dewi punya hotel 25 kamar di Yogyakarta. Setiap bulan, laporan menunjukkan RevPAR Rp 450.000 — lumayan tinggi untuk hotel sekelasnya. Padahal hotel tetangga yang kamarnya lebih bagus cuma punya RevPAR Rp 280.000.
Bu Dewi senang. "RevPAR tinggi, pasti hotel saya untung besar," pikirnya.
Tapi pas akhir tahun, dia buka pembukuan. Rugi.
Kok bisa?
Selamat datang di jebakan terbesar Revenue Management: RevPAR tinggi belum tentu = untung besar.
Di sinilah GOPPAR (Gross Operating Profit Per Available Room) masuk sebagai penyelamat.
Apa Itu GOPPAR? (Biar Gak Pusing)
Bayangkan hotel Anda seperti warung bakso.
- RevPAR itu kayak omset per mangkuk — berapa duit yang masuk dari jualan bakso.
- GOPPAR itu kayak keuntungan bersih per mangkuk — setelah dikurangi harga daging, mie, gas, gaji karyawan, dan lain-lain.
GOPPAR = (Total Pendapatan Hotel – Total Biaya Operasional) ÷ Jumlah Kamar Tersedia
Jadi kalau hotel Bu Dewi punya RevPAR Rp 450.000 tapi biaya operasionalnya ternyata gede banget (AC rusak terus, gaji karyawan banyak, listrik boros), GOPPAR-nya bisa jeblok. Bahkan minus.
Inilah kenapa fokus cuma ke RevPAR itu berbahaya. Anda bisa sibuk ngejar okupansi dan ADR, tapi lupa lihat sisi biaya.
Kisah Nyata (Fiktif Tapi Realistis): Hotel Bu Dewi vs Hotel Pak Agus
| Metrik | Hotel Bu Dewi | Hotel Pak Agus |
|---|---|---|
| Jumlah Kamar | 25 | 20 |
| RevPAR | Rp 450.000 | Rp 280.000 |
| Pendapatan/Bulan | Rp 337,5 Juta | Rp 168 Juta |
| Biaya Operasional | Rp 320 Juta | Rp 120 Juta |
| GOPPAR | Rp 23.333 | Rp 80.000 |
Lihat? Hotel Pak Agus yang RevPAR-nya lebih rendah justru 3,5 kali lebih untung per kamar. Kenapa? Karena dia lebih efisien.
Bu Dewi terlalu royal di biaya — AC kamar nyala 24 jam walau kosong, gaji karyawan kebanyakan, langganan software berbayar yang jarang dipakai. Semua itu makan profit.
GOPPAR = RevPAR – Biaya per Kamar
Rumus sederhananya:
GOPPAR = RevPAR – (Total Biaya Operasional ÷ Jumlah Kamar Tersedia)
Biaya operasional yang harus Anda hitung:
- Gaji karyawan (biasanya 25-35% dari pendapatan)
- Listrik & air (AC, pompa, kolam renang)
- Laundry & linens
- Breakfast & F&B; cost
- Komisi OTA (Traveloka, Agoda, Booking.com — bisa 15-25%!)
- Maintenance & perbaikan
- Marketing & iklan
- Langganan software & sistem
3 Langkah Praktis Mulai Pantau GOPPAR Hari Ini Juga
- Kumpulkan data biaya bulan lalu. Buka laporan keuangan 3 bulan terakhir. Jumlahkan semua biaya operasional — jangan lupa yang kecil-kecil kayak minum tamu, sabun kamar, tisu.
- Hitung GOPPAR manual. Pakai rumus di atas. Kertas dan kalkulator cukup. Hasilnya? Angka laba bersih per kamar per malam.
- Bandingkan dengan RevPAR Anda. Kalau selisihnya tipis (misal RevPAR Rp 400.000, GOPPAR Rp 50.000) — artinya biaya Anda terlalu besar. Waktunya efisiensi.
Mau lebih gampang? Gunakan LightRMS — alat Revenue Management gratis yang bisa bantu lacak metrik seperti GOPPAR, RevPAR, dan ADR otomatis tanpa ribet spreadsheet.
Mini Q&A;: Yang Sering Ditanyakan Pemilik Hotel
Q: GOPPAR ideal itu berapa?
A: Gak ada angka mutlak. Tapi aturan mainnya: GOPPAR minimal 30-40% dari RevPAR Anda. Kalau RevPAR Rp 400.000, GOPPAR seharusnya di atas Rp 120.000-Rp 160.000. Kalau kurang, Anda perlu efisiensi.
Q: Hitungnya pakai apa? Saya gak punya software mahal.
A: Google Sheets cukup. Buat kolom: pendapatan total, kurangi biaya, bagi jumlah kamar tersedia. Selesai. Atau coba Quick Forecasting Tool dari GriyaEdu — gratis.
Q: Biaya apa yang paling sering bikin GOPPAR jeblok?
A: Komisi OTA dan gaji karyawan. Banyak hotel kecil kehilangan 20-30% pendapatan cuma dari komisi Traveloka-Agoda. Ditambah gaji karyawan yang gak proporsional dengan okupansi.
Sebelum vs Sesudah: Contoh Nyata
Sebelum: Hotel Bu Dewi cuma lihat RevPAR. "RevPAR naik, saya senang." Biaya membengkak diam-diam. Akhir tahun rugi.
Sesudah: Bu Dewi mulai pantau GOPPAR tiap bulan. Dia sadar biaya listrik terlalu besar — AC di kamar kosong tetap nyala. Dia pasang sistem key card (AC mati otomatis kalau kamar kosong). Biaya listrik turun 15%. GOPPAR naik 40% dalam 2 bulan.
Bedanya? Sekarang Bu Dewi tahu persis: setiap kamar yang terisi benar-benar memberi untung, bukan cuma omzet.
Intinya: RevPAR Itu Omzet, GOPPAR Itu Gaji Bersih
Jangan puas cuma karena RevPAR tinggi. Mungkin Anda jualan banyak tapi biaya makan semua untung. GOPPAR adalah angka sebenarnya yang menunjukkan apakah hotel Anda sehat atau tidak.
Mulai besok pagi, saat Anda buka laporan, jangan cuma lihat okupansi dan ADR. Tanyakan: "GOPPAR saya hari ini berapa?"
Itulah bedanya hotel yang cuma sibuk dan hotel yang benar-benar untung.
Butuh bantuan mengelola revenue hotel Anda?
Gunakan RMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.
Artikel ini dibuat untuk membantu hotelier Indonesia memahami praktik Revenue Management terbaik.