GRIYANET.my.id Home Blog
Revenue Management

GOPPAR: Kenapa RevPAR Saja Tidak Cukup untuk Ukur Profit Hotel Anda

July 03, 2026 • 4 min read • oleh Griya Widiada
GOPPAR: Kenapa RevPAR Saja Tidak Cukup untuk Ukur Profit Hotel Anda

Hotel dengan RevPAR Rp 500.000 Bisa Lebih Bangkrut daripada Hotel RevPAR Rp 200.000? Ini Penjelasannya

Bayangin ini: Bu Dewi punya hotel 25 kamar di Yogyakarta. Setiap bulan, laporan menunjukkan RevPAR Rp 450.000 — lumayan tinggi untuk hotel sekelasnya. Padahal hotel tetangga yang kamarnya lebih bagus cuma punya RevPAR Rp 280.000.

Bu Dewi senang. "RevPAR tinggi, pasti hotel saya untung besar," pikirnya.

Tapi pas akhir tahun, dia buka pembukuan. Rugi.

Kok bisa?

Selamat datang di jebakan terbesar Revenue Management: RevPAR tinggi belum tentu = untung besar.

Di sinilah GOPPAR (Gross Operating Profit Per Available Room) masuk sebagai penyelamat.

Apa Itu GOPPAR? (Biar Gak Pusing)

Bayangkan hotel Anda seperti warung bakso.

GOPPAR = (Total Pendapatan Hotel – Total Biaya Operasional) ÷ Jumlah Kamar Tersedia

Jadi kalau hotel Bu Dewi punya RevPAR Rp 450.000 tapi biaya operasionalnya ternyata gede banget (AC rusak terus, gaji karyawan banyak, listrik boros), GOPPAR-nya bisa jeblok. Bahkan minus.

Inilah kenapa fokus cuma ke RevPAR itu berbahaya. Anda bisa sibuk ngejar okupansi dan ADR, tapi lupa lihat sisi biaya.

Kisah Nyata (Fiktif Tapi Realistis): Hotel Bu Dewi vs Hotel Pak Agus

Metrik Hotel Bu Dewi Hotel Pak Agus
Jumlah Kamar 25 20
RevPAR Rp 450.000 Rp 280.000
Pendapatan/Bulan Rp 337,5 Juta Rp 168 Juta
Biaya Operasional Rp 320 Juta Rp 120 Juta
GOPPAR Rp 23.333 Rp 80.000

Lihat? Hotel Pak Agus yang RevPAR-nya lebih rendah justru 3,5 kali lebih untung per kamar. Kenapa? Karena dia lebih efisien.

Bu Dewi terlalu royal di biaya — AC kamar nyala 24 jam walau kosong, gaji karyawan kebanyakan, langganan software berbayar yang jarang dipakai. Semua itu makan profit.

GOPPAR = RevPAR – Biaya per Kamar

Rumus sederhananya:

GOPPAR = RevPAR – (Total Biaya Operasional ÷ Jumlah Kamar Tersedia)

Biaya operasional yang harus Anda hitung:

3 Langkah Praktis Mulai Pantau GOPPAR Hari Ini Juga

  1. Kumpulkan data biaya bulan lalu. Buka laporan keuangan 3 bulan terakhir. Jumlahkan semua biaya operasional — jangan lupa yang kecil-kecil kayak minum tamu, sabun kamar, tisu.
  2. Hitung GOPPAR manual. Pakai rumus di atas. Kertas dan kalkulator cukup. Hasilnya? Angka laba bersih per kamar per malam.
  3. Bandingkan dengan RevPAR Anda. Kalau selisihnya tipis (misal RevPAR Rp 400.000, GOPPAR Rp 50.000) — artinya biaya Anda terlalu besar. Waktunya efisiensi.

Mau lebih gampang? Gunakan LightRMS — alat Revenue Management gratis yang bisa bantu lacak metrik seperti GOPPAR, RevPAR, dan ADR otomatis tanpa ribet spreadsheet.

Sebelum vs Sesudah: Contoh Nyata

Sebelum: Hotel Bu Dewi cuma lihat RevPAR. "RevPAR naik, saya senang." Biaya membengkak diam-diam. Akhir tahun rugi.

Sesudah: Bu Dewi mulai pantau GOPPAR tiap bulan. Dia sadar biaya listrik terlalu besar — AC di kamar kosong tetap nyala. Dia pasang sistem key card (AC mati otomatis kalau kamar kosong). Biaya listrik turun 15%. GOPPAR naik 40% dalam 2 bulan.

Bedanya? Sekarang Bu Dewi tahu persis: setiap kamar yang terisi benar-benar memberi untung, bukan cuma omzet.

Intinya: RevPAR Itu Omzet, GOPPAR Itu Gaji Bersih

Jangan puas cuma karena RevPAR tinggi. Mungkin Anda jualan banyak tapi biaya makan semua untung. GOPPAR adalah angka sebenarnya yang menunjukkan apakah hotel Anda sehat atau tidak.

Mulai besok pagi, saat Anda buka laporan, jangan cuma lihat okupansi dan ADR. Tanyakan: "GOPPAR saya hari ini berapa?"

Itulah bedanya hotel yang cuma sibuk dan hotel yang benar-benar untung.

Butuh bantuan mengelola revenue hotel Anda?

Gunakan RMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.

Artikel ini dibuat untuk membantu hotelier Indonesia memahami praktik Revenue Management terbaik.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kenapa hotel saya RevPAR-nya tinggi tapi tetap rugi di akhir tahun?

Karena RevPAR hanya menghitung pendapatan, belum dikurangi biaya operasional. Kalau biaya seperti listrik, gaji, dan komisi OTA membengkak, profit bisa habis meski kamar laku dengan harga bagus. Artikel mencontohkan hotel dengan RevPAR Rp 450.000 yang justru kalah untung dari hotel RevPAR Rp 280.000 karena biayanya lebih efisien.

Berapa sering saya harus menghitung GOPPAR?

Minimal sebulan sekali, bersamaan dengan penutupan laporan keuangan. Kumpulkan semua biaya operasional bulan itu, kurangi dari total pendapatan, lalu bagi dengan jumlah kamar tersedia. Kalau baru mulai, cukup kertas dan kalkulator — tidak perlu software mahal.

Apa langkah pertama yang paling cepat menekan biaya operasional tanpa memecat karyawan?

Cari biaya yang "bocor diam-diam", seperti AC kamar kosong yang tetap menyala 24 jam. Artikel mencontohkan pemasangan sistem key card yang membuat biaya listrik turun 15% dan GOPPAR naik 40% dalam 2 bulan. Komisi OTA juga sering jadi biaya terbesar — setiap booking langsung yang berhasil Anda ambil alih langsung menaikkan GOPPAR.

Apakah GOPPAR dihitung per kamar yang terisi atau per kamar yang tersedia?

Per kamar yang tersedia — termasuk kamar yang kosong. Itulah bedanya dengan metrik lain: GOPPAR memaksa Anda melihat efisiensi seluruh hotel, bukan hanya kamar yang laku. Kamar kosong tetap menanggung biaya, dan GOPPAR menunjukkan apakah hotel Anda sehat secara keseluruhan.

Apakah mungkin GOPPAR saya minus dan apa yang harus dilakukan?

Mungkin, dan itu tanda bahaya — artinya biaya operasional lebih besar dari pendapatan. Biasanya penyebabnya komisi OTA yang tinggi atau gaji karyawan yang tidak proporsional dengan okupansi. Bandingkan GOPPAR dengan RevPAR: kalau selisihnya sangat tipis, saatnya efisiensi besar-besaran sebelum akhir tahun malah rugi.

#bottom line#efisiensi#GOPPAR#profit#revenue