GRIYANET.my.id Home Blog
Pricing Strategy

Harga Kamar Beda Tiap Hari: Cara Atur Tarif Senin–Kamis vs Akhir Pekan

September 12, 2026 • 6 min read • oleh Griya Widiada
Harga Kamar Beda Tiap Hari: Cara Atur Tarif Senin–Kamis vs Akhir Pekan

Harga Kamar Beda Tiap Hari: Cara Atur Tarif Senin–Kamis vs Akhir Pekan

Hotel 18 kamar di Yogyakarta. Tarifnya Rp 400.000 untuk semua malam, dari Senin sampai Minggu. Sabtu penuh 98%, Minggu lumayan, Selasa cuma 48%.

Pemiliknya ramai terus, tapi tabungannya jalan di tempat. "Kok kamar penuh tiap akhir pekan, tapi uangnya nggak kelihatan?"

Jawabannya sederhana dan menyakitkan: Sabtu yang penuh dijual dengan harga Selasa yang sepi.

Kehilangan yang Tidak Terlihat di Laporan

Ada dua cara kehilangan uang saat tarif Anda rata sepanjang minggu.

Pertama, di hari penuh. Kalau Sabtu selalu habis di harga Rp 400.000, artinya ada belasan tamu yang sebenarnya mau bayar Rp 550.000 — dan Anda tidak pernah menagihnya. Mereka tidak protes, mereka cuma senang dapat murah. Anda yang rugi, diam-diam.

Kedua, di hari sepi. Karena tarif Anda "sudah murah" dan tetap kosong, Anda akhirnya panik dan memberi diskon ke semua orang — termasuk ke tamu Selasa yang sudah biasa bayar penuh.

Bayangkan jualan nasi campur. Jam 12 antre 20 orang, jam 3 sore sepi. Kalau harganya sama sepanjang hari, Anda kehilangan margin dari yang antre, sekaligus kesempatan membuat yang jam 3 sore mau mampir. Sama persis dengan kamar.

Tiga Tipe Hari, Tiga Cara Perlakuan

Sebelum menyentuh angka, kelompokkan dulu hari-hari Anda:

Masalahnya, kebanyakan pemilik hotel tidak tahu hari mana masuk kategori mana. Padahal jawabannya sudah ada di buku besar Anda.

Cara Menghitung Demand Index per Hari

Ini bagian teknisnya, tapi cuma butuh spreadsheet dan 20 menit.

  1. Ekspor data 90 hari terakhir: tanggal, jumlah kamar terjual, tarif rata-rata.
  2. Kelompokkan kamar terjual berdasarkan nama hari (semua Senin jadi satu, semua Selasa jadi satu, dan seterusnya).
  3. Hitung okupansi rata-rata tiap hari.
  4. Bagi okupansi hari itu dengan okupansi rata-rata mingguan. Hasilnya demand index.

Kalau index di atas 1, permintaan hari itu di atas rata-rata — di situ uang Anda bersembunyi. Kalau di bawah 0,9, jangan harap harga bisa menyelamatkan; yang bisa menyelamatkan adalah segmen tamu yang berbeda.

Contoh hasil untuk hotel 18 kamar tadi:

Hari Okupansi rata-rata Demand index Tarif sekarang Tarif usulan
Senin 52% 0,78 Rp 400.000 Rp 400.000 + nilai tambah
Selasa 48% 0,72 Rp 400.000 Rp 400.000 + nilai tambah
Rabu 58% 0,87 Rp 400.000 Rp 400.000
Kamis 66% 0,99 Rp 400.000 Rp 425.000
Jumat 91% 1,37 Rp 400.000 Rp 525.000
Sabtu 98% 1,47 Rp 400.000 Rp 575.000
Minggu 71% 1,07 Rp 400.000 Rp 450.000

Perhatikan: hari sepi tidak diturunkan. Kalau Anda memotong tarif Selasa jadi Rp 300.000, tamu Rabu dan Kamis akan minta harga yang sama. Yang rusak bukan cuma satu malam — reputasi harga Anda sepanjang minggu.

Untuk hari sepi, pakai dynamic pricing yang benar: tambah sarapan, gratis late check-out, atau buka rate tertutup untuk tamu bulanan.

Sebelum vs Sesudah: Hitungan Jujur

Pak Budi, pemilik hotel 18 kamar di Yogyakarta, mencoba tarif flat Rp 400.000 selama tiga bulan.

Sebelum (flat) Sesudah (per hari)
Senin–Kamis Rp 16,1 juta Rp 16,4 juta
Jumat Rp 6,6 juta Rp 8,6 juta
Sabtu Rp 7,0 juta Rp 10,1 juta
Minggu Rp 5,1 juta Rp 5,8 juta
Total seminggu Rp 34,8 juta Rp 40,9 juta

Selisihnya Rp 6,1 juta per minggu, atau sekitar Rp 26 juta sebulan — dari satu keputusan saja: berhenti menjual Sabtu dengan harga Selasa.

Angka ini hitungan di atas kertas. Di lapangan bisa beda 10%–20%, tergantung seberapa berani pasar Anda. Tapi arahnya hampir selalu sama.

Lima Langkah Mulai Minggu Ini

  1. Tarik data 90 hari terakhir dari PMS atau extranet OTA Anda.
  2. Isi tabel demand index seperti di atas.
  3. Pilih satu hari peak yang paling aman — biasanya hari dengan okupansi di atas 90% selama tiga bulan berturut-turut.
  4. Naikkan tarif hari itu 15%, catat tanggal mulainya.
  5. Review 14 hari kemudian: bandingkan booking masuk dengan periode sama bulan lalu. Kalau turun lebih dari 10%, turunkan 5% dan ulangi.

Satu hari dulu, jangan tujuh hari sekaligus. Kalau semua tarif diubah dalam semalam, Anda tidak akan pernah tahu mana yang berhasil dan mana yang bikin tamu kabur.

Setelah tarif per hari berjalan, langkah berikutnya adalah menyesuaikannya dengan kalender event lokal — karena Sabtu yang bertepatan dengan long weekend jauh lebih mahal daripada Sabtu biasa.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Langkah Berikutnya

Kalau Anda belum punya data 90 hari yang rapi, mulai dari situ dulu — panduan lengkapnya ada di cara membaca data historis hotel Anda dengan spreadsheet. Setelah tabel demand index Anda jadi, tarif per hari akan terasa seperti keputusan yang jelas, bukan tebakan.

Satu minggu sekali, duduk 30 menit dengan data. Itu saja bedanya antara hotel yang ramai dan hotel yang untung.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa selisih wajar antara tarif weekday dan akhir pekan?

Untuk hotel 10–50 kamar di Indonesia, selisih 25%–40% normal di destinasi wisata, dan 15%–25% di kota bisnis. Kalau okupansi Sabtu Anda konsisten di atas 95%, selisih 40% masih tergolong aman — tamu yang liburan akhir pekan tidak akan pindah hanya karena beda Rp 150.000.

Kalau harga akhir pekan saya naikkan, apakah tamu akan pindah ke hotel sebelah?

Sebagian kecil mungkin, tapi biasanya bukan tamu yang paling menguntungkan. Yang kabur karena harga cenderung paling sensitif dan paling banyak minta ini-itu. Sebagai gantinya Anda dapat tamu bernilai transaksi lebih tinggi. Kuncinya naikkan bertahap, bukan melompat 60% dalam semalam.

Hotel saya hanya 10 kamar. Apakah atur tarif per hari tetap relevan?

Justru lebih relevan. Dengan 10 kamar, satu kamar bernilai 10% dari inventaris Anda. Menaikkan tarif Sabtu dari Rp 350.000 ke Rp 500.000 selama 8 malam sebulan sudah menambah Rp 1,2 juta — tanpa satu tamu baru pun.

Bagaimana kalau hari tersibuk saya justru Selasa, bukan Sabtu?

Itu justru informasi berharga. Kalau Selasa penuh karena pasar induk atau kunjungan dinas rutin, Selasa adalah "Sabtu" Anda. Perlakukan hari itu sebagai peak day, dan jangan paksa tarif tinggi di hari yang tamunya memang tidak ada.

Apakah cara ini sama dengan dynamic pricing?

Ini pintu masuknya. Tarif per hari sifatnya mingguan dan berulang; dynamic pricing menyesuaikan lagi berdasarkan sisa kamar, booking pace, dan event. Mulailah dari per hari dulu — polanya lebih mudah dibaca dan risikonya lebih kecil.

#day of week pricing#harga per hari#weekday vs weekend#pricing strategy#hotel kecil