GRIYANET.my.id Home Blog
Pricing Strategy

Last Room Value: Kenapa Kamar Terakhir Hotel Justru Harus Paling Mahal, Bukan Paling Murah

August 25, 2026 • 5 min read • oleh Griya Widiada
Last Room Value: Kenapa Kamar Terakhir Hotel Justru Harus Paling Mahal, Bukan Paling Murah

Last Room Value: Kenapa Kamar Terakhir Hotel Justru Harus Paling Mahal, Bukan Paling Murah

Jam 7 malam. Sisa 3 kamar dari 16 kamar hotel Anda. Staf front office mulai gelisah, lalu mengirim pesan singkat: "Pak, malam ini masih sisa 3 kamar. Bagaimana kalau kita turunkan harga 30% biar cepat laku?"

Kalau Anda mengalami ini hampir setiap malam, Anda tidak sendiri. Ini kebiasaan paling umum di hotel kecil Indonesia — dan diam-diam membuang jutaan rupiah setiap bulan. Mari kita bongkar kenapa, dan apa gantinya.

Logika Sederhana di Balik Last Room Value

Last room value itu konsepnya gampang: makin sedikit kamar tersisa, makin tinggi harga yang pantas Anda minta. Kebalikan dari insting kebanyakan orang.

Kenapa? Karena tamu yang masih mencari kamar jam 7 malam bukan tipe pemburu harga murah. Mereka butuh kamar — sudah di kota, ada urusan besok pagi, atau perjalanan dadakan. Orang yang sensitif harga sudah booking dari jauh-jauh hari; yang tersisa di menit terakhir justru yang paling tidak bisa menawar.

Kamar terakhir Anda bukan barang sisa — itu barang paling laku di malam itu. Menjualnya murah sama saja menjual emas dengan harga perak.

Studi Kasus: Bu Sari dan Diskon Rp 150 Ribu

Bu Sari punya hotel 16 kamar di Bandung dengan harga normal Rp 450 ribu. Setiap malam yang tersisa 3-4 kamar, stafnya otomatis menurunkan harga jadi Rp 300 ribu.

3 kamar x Rp 150 ribu = Rp 450 ribu hilang per malam. Terjadi 20 malam sebulan, Bu Sari kehilangan Rp 9 juta. Dalam setahun, Rp 108 juta menguap — hanya karena takut kamar kosong.

Ironisnya, kamar-kamar itu tetap laku — artinya tamunya bersedia bayar Rp 450 ribu. Bu Sari-lah yang memilih menagih lebih murah.

Kapan Sebenarnya Boleh Menurunkan Harga?

Menurunkan harga bukan dosa. Yang salah adalah menurunkannya di saat permintaan sedang tinggi. Ada dua momen yang justru tepat:

Sebaliknya, saat malam itu tinggal 3 kamar atau kurang, arahnya naik, bukan turun. Naikkan Rp 50-100 ribu dari harga normal. Kalau laku, itu pendapatan tambahan tanpa biaya apa pun.

Perbandingan Sebelum dan Sesudah

| Situasi | Kebiasaan lama | Last room value | |---|---| | Sisa 4 kamar, sore | Turun ke Rp 350rb | Tetap Rp 450rb | | Sisa 2 kamar, malam | Turun ke Rp 300rb | Naik ke Rp 500rb | | Kamar terakhir | Nego ke Rp 250rb | Tetap Rp 500rb | | Rata-rata per malam | Rp 5,6 juta | Rp 6,3 juta |

Selisihnya Rp 700 ribu per malam. Kalikan 25 malam sebulan: Rp 17,5 juta tambahan per bulan — hotel yang sama, tanpa biaya iklan.

Cara Menerapkannya Besok Pagi (Tanpa Software Mahal)

  1. Tulis aturannya di kertas. Tempel di front office: "Sisa 1-3 kamar = harga naik 10-15%. Sisa 4+ = harga normal. Turunkan harga HANYA untuk tanggal yang jauh." Ini menghentikan keputusan panik.
  2. Cek sisa kamar 3 kali sehari. Pagi, sore, dan malam. Cukup lihat extranet OTA atau buku tamu — tidak perlu dashboard canggih.
  3. Latih staf bilang "tidak" dengan sopan. Kalau tamu nego di meja depan, ajari staf menjawab: "Maaf, malam ini tinggal 2 kamar dan ini harga terbaik. Besok malam lebih rendah, mau saya bantu booking untuk besok?" Kalau tetap mau, dia bayar penuh. Kalau tidak, kamar itu tetap bisa laku besok.

Satu hal penting: kebiasaan ini hanya berfungsi kalau Anda tahu perkiraan permintaan. Kalau malam itu sepi total — misalnya Selasa malam biasa — menahan harga terlalu tinggi juga tidak masuk akal. Gunakan data booking pace untuk membedakan malam ramai dan sepi, caranya sudah kami tulis di artikel booking pace.

Yang Perlu Diingat

Kamar kosong malam ini memang hilang selamanya — itu benar. Tapi harga murah yang Anda pasang malam ini akan dicatat dan dibandingkan oleh OTA dan calon tamu minggu depan. Sekali pasar tahu kamar bisa turun Rp 150 ribu di menit terakhir, mereka akan menunggu diskon itu.

Sebaliknya, setiap malam Anda bertahan di harga normal, Anda melatih pasar: "Hotel ini harganya konsisten. Kalau mau kamar, booking lebih awal." Dalam sebulan, pola ini mengubah siapa yang datang — dari pemburu diskon menjadi tamu yang menghargai nilai.

Mulai malam ini. Saat staf bertanya "turunkan harganya, Pak?", jawab: "Tidak. Kita naikkan."

Kalau Anda masih ragu kapan boleh memberi diskon dan kapan harus bertahan, baca lanjutannya di BAR Rate vs Discounting: Kapan Harus Memberi Diskon.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kalau kamar masih kosong jam 10 malam, apakah tetap tidak boleh diturunkan harganya?

Tergantung pola permintaan hotel Anda. Kalau selama ini kamar terakhir biasanya laku antara jam 8-10 malam, bertahanlah — tamu Anda memang datang belakangan. Kalau biasanya sudah sepi, turunkan sedikit untuk tamu walk-in, tapi jangan di semua channel online.

Berapa persen sebaiknya harga dinaikkan untuk kamar terakhir?

Mulai dari 10-15% di atas harga normal saat sisa 1-3 kamar. Untuk hotel Rp 450 ribu, artinya naik ke Rp 500 ribu. Jangan langsung naik 50% — pasar butuh waktu menyesuaikan.

Bagaimana cara tahu malam ini malam ramai atau sepi sebelum memutuskan naik atau turun harga?

Lihat dua hal: jumlah kamar yang sudah terbooking di extranet OTA, dan perbandingannya dengan malam yang sama minggu lalu. Kalau booking pace lebih cepat dari minggu lalu, malam ini malam ramai — tahan harga.

Apakah last room value berlaku juga untuk hotel di kota kecil yang tamunya kebanyakan kenalan?

Berlaku, tapi dengan gaya yang lebih lentur. Untuk tamu lama atau kenalan, beri potongan kecil sebagai gestur — itu investasi hubungan. Untuk tamu baru yang datang belakangan, bertahanlah di harga normal.

Staf saya selalu panik kalau ada kamar kosong dan langsung kasih diskon. Bagaimana menghentikannya?

Ganti ukuran keberhasilan staf. Jangan nilai dari "kamar habis semua", tapi dari "rata-rata harga kamar terjual" (ADR). Tempel aturan di depan meja dan adakan evaluasi 5 menit tiap pagi. Kebiasaan panik biasanya hilang dalam dua minggu.

#last room value#harga kamar#diskon#dynamic pricing#hotel kecil