GRIYANET.my.id Home Blog
Pricing Strategy

LOS Policy: Atur Minimal Menginap Biar Kamar Tidak Kemakan Tamu 1 Malam

June 13, 2026 • 5 min read • oleh Griya Widiada
LOS Policy: Atur Minimal Menginap Biar Kamar Tidak Kemakan Tamu 1 Malam

Pernahkah Anda mengalami momen high season—akhir pekan panjang, libur Lebaran, atau malam Tahun Baru—tetapi kamar hotel Anda habis dipesan oleh tamu yang hanya menginap satu malam? Padahal jika tamu tersebut menginap dua atau tiga malam, revenue yang Anda dapat bisa dua kali lipat lebih besar.

Fenomena ini adalah masalah klasik di hotel kecil dan menengah Indonesia. Solusinya sederhana: LOS Policy , atau kebijakan minimum length of stay. Artikel ini akan membahas apa itu LOS Policy, kapan harus diterapkan, dan bagaimana cara mengaturnya tanpa membingungkan staf front office atau calon tamu.

Apa Itu LOS Policy?

LOS (Length of Stay) Policy adalah aturan yang menetapkan jumlah minimum malam menginap yang harus dipenuhi tamu saat melakukan reservasi. Contoh paling umum: saat high season, hotel menetapkan minimum 2 malam (min 2 nights) atau bahkan 3 malam (min 3 nights) untuk tanggal tertentu.

LOS policy bekerja dalam dua arah:

Bagi hotel kecil di Indonesia, Min LOS adalah senjata paling ampuh untuk memaksimalkan revenue saat permintaan sedang tinggi.

Kenapa LOS Policy Penting untuk Hotel Kecil?

Bayangkan skenario ini: Hotel Anda memiliki 20 kamar. Akhir pekan panjang Isra Mikraj dan Tahun Baru Imlek, seluruh kamar laku terjual. Namun, dari 20 kamar yang terisi, 12 kamar di antaranya hanya untuk 1 malam. Artinya, malam berikutnya Anda harus mencari tamu baru lagi—atau lebih buruk lagi, keesokan harinya bukan hari libur sehingga okupansi langsung anjlok.

Dengan menerapkan min 2 nights , ke-12 kamar itu akan terisi untuk dua malam. Hitung sendiri: jika ADR hotel Anda Rp350.000, berarti Anda kehilangan potensi revenue sebesar Rp4.200.000 hanya karena tidak menerapkan LOS policy. Dalam satu tahun, apalagi jika ada beberapa momen high season, angka ini bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menerapkan LOS Policy?

Tidak setiap hari Anda perlu menyalakan LOS policy. Gunakan kebijakan ini hanya pada momen-momen berikut:

  1. Hari libur nasional dan cuti bersama — Libur Lebaran, Natal, Tahun Baru, Nyepi, Waisak, dan hari besar lainnya.
  2. Weekend panjang — Saat Senin atau Jumat juga libur, sehingga tercipta long weekend.
  3. Event besar di kota Anda — Konser musik, pameran, konferensi, lomba olahraga, atau acara adat yang mendatangkan banyak pengunjung.
  4. High season musiman — Musim liburan sekolah (Juni-Juli dan Desember) atau musim liburan Eropa (Agustus) jika hotel Anda di destinasi wisata seperti Bali, Yogyakarta, atau Lombok.
  5. Ketika okupansi sudah mencapai 70-80% jauh-jauh hari — Jika booking pace menunjukkan bahwa 3 minggu ke depan okupansi sudah tembus 70%, saatnya menyalakan LOS policy.

Cara Praktis Menerapkan LOS Policy

Berikut langkah-langkah sederhana yang bisa Anda lakukan hari ini juga:

Risiko Jika Tidak Menerapkan LOS Policy

Hotel tanpa LOS policy saat high season menghadapi tiga risiko utama:

  1. Kamar cepat habis, revenue rendah — Semua kamar laku untuk 1 malam, padahal permintaan masih tinggi untuk malam-malam berikutnya.
  2. Operasional tidak efisien — Staf housekeeping harus mengejar turnover kamar setiap hari, sementara jika tamu menginap lebih lama, pekerjaan mereka lebih santai.
  3. Kehilangan tamu potensial — Tamu yang ingin menginap 3 malam tidak bisa mendapat kamar karena semua sudah laku untuk tamu 1 malam. Ironis, bukan?

Contoh Kasus: Hotel 25 Kamar di Yogyakarta

Sebuah hotel bintang 2 di Malioboro, Yogyakarta, dengan 25 kamar dan ADR Rp250.000, setiap long weekend menjual habis semua kamar. Sebelum menerapkan LOS policy, mereka hanya mendapatkan 1 malam per kamar. Setelah menerapkan min 2 nights untuk setiap long weekend (rata-rata 5 kali setahun), mereka berhasil mengamankan 25 kamar x Rp250.000 x 1 malam tambahan x 5 event = Rp31.250.000 tambahan revenue per tahun — tanpa perlu renovasi, tanpa tambahan staf, dan tanpa biaya pemasaran ekstra.

Kesimpulan

LOS Policy adalah alat paling sederhana namun paling efektif untuk memastikan Anda tidak menjual kamar terlalu murah di momen permintaan tinggi. Dengan menetapkan minimum length of stay yang tepat, Anda melindungi revenue hotel, membuat operasional lebih efisien, dan memastikan setiap kamar memberikan nilai maksimal.

Mulailah dengan menandai kalender high season Anda hari ini. Buat aturan min stay untuk setiap momen penting, gunakan sistem pricing otomatis seperti LightRMS untuk menyelaraskannya di semua kanal, dan lihat sendiri bagaimana satu kebijakan sederhana bisa mengubah bottom line hotel Anda.

Butuh bantuan mengelola revenue hotel Anda?

Gunakan LightRMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.

Artikel ini dibuat untuk membantu hotelier Indonesia memahami praktik Revenue Management terbaik.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Saya hotel 8 kamar, apakah aturan minimal menginapnya sama dengan hotel 20 kamar?

Tidak. Aturan praktisnya: hotel 10-30 kamar aman dengan minimal 2 malam, sedangkan hotel 5-10 kamar bisa memasang minimal 3 malam saat puncak karena setiap kamar sangat berharga. Sesuaikan jarak LOS dengan ukuran hotel Anda, lalu evaluasi setelah high season selesai.

Kalau ada tamu bisnis yang cuma butuh 1 malam saat high season, bagaimana melayaninya?

Tetap bisa, dengan fleksibilitas. Berikan pengecualian untuk corporate guest yang sudah langganan, atau tamu yang bersedia membayar harga premium (BAR rate + 20-30%) untuk satu malam. LOS policy adalah panduan, bukan rantai — yang penting kamar tidak kemakan tamu pendek dengan harga normal.

Apakah LOS policy harus sama di semua platform seperti Traveloka dan Agoda?

Sangat disarankan. Kalau website Anda minimal 2 malam tapi Traveloka masih menerima 1 malam, tamu akan memesan lewat kanal yang longgar dan aturan Anda tidak berfungsi. Sinkronkan aturan di semua kanal, idealnya lewat channel manager, supaya kendalinya satu pintu.

Bagaimana cara menghitung berapa rupiah yang hilang kalau saya tidak pasang LOS policy?

Hitung dengan contoh sederhana: jumlah kamar yang terisi cuma 1 malam dikali ADR Anda. Dari artikel ini: 12 kamar x Rp350.000 = Rp4.200.000 yang hilang dalam satu momen high season karena tidak memasang minimal 2 malam. Kalikan dengan beberapa momen ramai dalam setahun, angkanya bisa puluhan juta rupiah.

Bagaimana cara tahu kapan saya harus menyalakan LOS policy?

Ada 5 momen: hari libur nasional dan cuti bersama, weekend panjang, event besar di kota Anda, high season musiman (libur sekolah Juni-Juli dan Desember), serta saat booking pace menunjukkan okupansi sudah 70-80% untuk 3 minggu ke depan. Tandai semuanya di kalender tahunan sejak sekarang, jangan menunggu mepet.

#high season#length of stay#LOS#minimum stay