GRIYANET.my.id Home Blog
Revenue Management

Revenue Management untuk Restoran Hotel: Jangan Lupakan F&B — Strategi Naikkan Pendapatan Hotel 28% Tanpa Tambah Kamar

July 01, 2026 • 5 min read • oleh Griya Widiada
Revenue Management untuk Restoran Hotel: Jangan Lupakan F&B — Strategi Naikkan Pendapatan Hotel 28% Tanpa Tambah Kamar

Pendapatan Tambahan yang Sering Terlewat: Restoran Hotel Anda

Bayangin ini: Bu Dewi punya hotel 20 kamar di Yogyakarta. Tiap bulan okupansi rata-rata 65% — lumayan lah. Tapi pas dicek pendapatan per kamar , angkanya jalan di tempat. Sudah setahun segitu-gitu aja. Padahal Bu Dewi capek kasih diskon, ikut program Traveloka, semuanya sudah dicoba.

Suatu hari, temannya — Pak Rudi yang punya hotel 18 kamar di Malang — ngasih saran: "Dewi, kamu punya restoran hotel, kan? Kamu hitung belum berapa yang bisa dihasilkan dari situ?"

Bu Dewi kaget. Selama ini restoran hotelnya cuma dipandang sebagai "pelengkap" — buka untuk sarapan tamu, lalu tutup sampai besok pagi. Padahal restoran itu aset yang bisa menghasilkan hampir 30% dari total revenue hotel , bahkan lebih kalau dikelola dengan benar.

Fakta yang Jarang Disadari Pemilik Hotel

Banyak pemilik hotel UMKM di Indonesia berpikir: "Yang penting kamar laku, urusan makanan mah belakangan." Mitos ini bikin banyak hotel kehilangan potensi pendapatan besar.

Tahukah Anda? Menurut data industri perhotelan Asia Tenggara, hotel dengan F &B; revenue yang aktif dan dikelola bisa menambah 20-35% dari total pendapatan. Untuk hotel 20 kamar dengan okupansi 65%, itu artinya Anda bisa dapat tambahan Rp 5-10 juta per bulan hanya dari restoran — tanpa perlu tamu baru.

Kenapa Restoran Hotel UMKM Sering Gagal?

Ada 3 masalah utama yang saya lihat di lapangan:

  1. Hanya andalkan tamu hotel. Begitu sarapan selesai, restoran tutup atau sepi. Padahal tamu hotel paling banyak 40 orang — itu belum cukup untuk bikin untung.
  2. Menu terlalu "hotel". Nasi goreng Rp 45.000 porsi kecil. Masyarakat lokal ogah makan di situ karena lebih milih warung pinggir jalan yang lebih murah dan lebih enak.
  3. Tidak pernah dipromosikan. Restoran hotel tidak punya akun Instagram sendiri, tidak pernah bikin promo, tidak terdaftar di GoFood/GrabFood. Ya jelas sepi.

Padahal solusinya simpel dan tidak butuh modal besar. Ini yang Bu Dewi lakukan setelah ngobrol dengan Pak Rudi.

4 Langkah yang Langsung Bisa Anda Coba Besok Pagi

Ini bukan teori. Ini yang sudah dipraktikkan Bu Dewi dan hasilnya nyata dalam 2 bulan:

1. Buka untuk umum di jam makan siang.
Buka pukul 11.00-14.00 untuk karyawan kantor sekitar. Bu Dewi bikin paket nasi kotak Rp 25.000 — nasi ayam geprek + es teh. Kirim brosur ke 10 kantor di sekitar hotel. Hasil? 15-25 porsi terjual per hari dalam minggu pertama.

2. Daftar ke GoFood & GrabFood.
Modal Rp 0 untuk daftar. Bu Dewi bikin 5 menu andalan: nasi goreng, mie goreng, ayam geprek, soto ayam, dan es campur. Harga Rp 20.000 - Rp 30.000. Bulan pertama dapat 30 order online per hari. Tambahan Rp 900.000 per bulan setelah dipotong komisi.

3. Promosi ke tamu hotel sebelum mereka datang.
Setiap tamu yang booking — baik lewat OTA maupun langsung — dikirimi WhatsApp otomatis (bisa pakai LightRMS lho) yang berisi: "Selamat datang! Nikmati diskon 10% untuk makan malam di restoran kami." Hasilnya, 40% tamu hotel mampir makan sore atau malam — padahal sebelumnya cuma 5%.

4. Buat "Paket Malam" untuk tamu late check-in.
Tamu yang check-in jam 9 malam biasanya langsung masuk kamar. Bu Dewi bikin paket nasi tumpeng mini + air mineral Rp 35.000 yang bisa dipesan saat booking. Dalam 2 minggu, 25% tamu pesan paket ini. Margin bersih per paket: Rp 15.000.

Sebelum vs Sesudah: Angka yang Bicara

Sebelum Sesudah (2 bulan)
Restoran buka 06.00-10.00 saja Buka 06.00-21.00
Revenue restoran: Rp 4,5 juta/bulan Revenue restoran: Rp 18,7 juta/bulan
0 order online 30-40 order GoFood/hari
5% tamu hotel makan di restoran 40% tamu hotel makan di restoran

Yang lebih menarik: total pendapatan hotel Bu Dewi naik 28% hanya dari optimalisasi restoran. Tanpa perlu nambah satu kamar pun. Tanpa pasang iklan mahal.

Mini Q&A;: Pertanyaan yang Sering Muncul

Q: "Restoran hotel saya cuma kecil, meja cuma 6, apa cukup?"
A: Justru itu kelebihan Anda! Restoran kecil lebih intim, biaya operasional rendah. Fokus ke takeaway dan delivery. Bu Dewi juga cuma punya 8 meja — tapi 60% revenue-nya dari takeaway dan GoFood.

Q: "Saya nggak punya chef handal, gimana?"
A: Nggak perlu chef bintang 5. Menu simpel yang Anda bisa buat konsisten — ayam geprek, nasi goreng, soto — itu sudah cukup. Yang penting rasa konsisten dan porsi pas. Karyawan dapur hotel Anda bisa dilatih dalam 1 minggu.

Q: "Nanti sarapan tamu jadi terganggu?"
A: Atur waktunya. Sarapan tamu 06.00-10.00. Buka untuk umum 11.00-14.00 (makan siang) dan 17.00-21.00 (makan malam). Staf dapur yang sama bisa handle semua shift — tinggal atur jadwal.

Apa Kata Pakar? Cek Sendiri

Kalau Anda masih ragu, cobain simulasi atau pelajari lebih lanjut tentang strategi RM Simulation Workshop dari GriyaNet Academy untuk lihat langsung dampak F&B; optimization terhadap revenue hotel Anda.

Atau kalau mau yang lebih spesifik tentang pricing untuk F &B;, ada juga Pricing Strategy Quiz yang bisa bantu Anda menentukan harga menu yang tepat untuk restoran hotel — beda dengan harga di hotel besar.

Mulai dari Satu Hal Dulu

Anda nggak perlu langsung melakukan semua 4 langkah di atas sekaligus. Cukup pilih satu:

Satu langkah kecil seminggu, dalam sebulan Anda sudah lihat perbedaan. Ingat: restoran hotel Anda itu bukan biaya — itu aset yang belum digali potensinya.

Butuh bantuan mengelola revenue hotel Anda?

Gunakan RMS — alat Revenue Management gratis untuk hotel UMKM Indonesia.

Artikel ini dibuat untuk membantu hotelier Indonesia memahami praktik Revenue Management terbaik.

#additional revenue#F&B#food & beverage#restoran hotel#strategi hotel UMKM